Call : 0341-561666 Emergency : 081225555119 WhatsApp Layanan Pengaduan Instagram YouTube Tiktok Lokasi

Layanan Pengaduan

081216337973

Metode kontrasepsi terus berkembang mengikuti kebutuhan perempuan modern yang aktif dan dinamis. Salah satu inovasi terbaru adalah KB koyo atau kontrasepsi berbentuk patch yang ditempel di kulit. dr. Aida Musyaroffah, Sp.OG menjelaskan bahwa KB koyo merupakan bagian dari KB hormonal kombinasi yang mengandung progesteron dan estrogen, sama seperti pil dan suntik kombinasi. “Kalau selama ini KB kombinasi bentuknya pil atau suntik, sekarang ada yang berbentuk koyo. Ditempel di kulit, bukan untuk encok, tapi untuk mencegah kehamilan,” jelasnya.

Secara cara kerja, KB koyo memiliki mekanisme yang sama dengan KB hormonal kombinasi lainnya. Ia menghambat ovulasi atau pelepasan sel telur, meningkatkan produksi lendir serviks sehingga menghambat pergerakan sperma, serta memengaruhi ketebalan dinding rahim agar embrio sulit menempel. Dengan mekanisme tersebut, peluang terjadinya kehamilan dapat ditekan secara efektif. dr. Aida menambahkan bahwa metode ini tetap membutuhkan penggunaan teratur agar efektivitasnya optimal.

Dibandingkan pil yang harus diminum setiap hari pada jam yang sama, KB koyo dinilai lebih praktis. Satu patch digunakan selama tujuh hari dan diganti setiap minggu selama tiga minggu, kemudian satu minggu istirahat saat haid. “Jadi tidak perlu ingat minum tiap hari. Cukup seminggu sekali ganti patch,” ujar dr. Aida.

Selain itu, karena tidak melalui saluran cerna, hormon langsung terserap melalui kulit ke pembuluh darah. Metode ini juga menjadi alternatif bagi perempuan yang takut suntik atau khawatir dengan risiko nyeri dan infeksi. Namun, tidak semua perempuan dapat menggunakan KB kombinasi, termasuk KB koyo. Penggunaannya harus selektif, terutama pada mereka yang memiliki riwayat hipertensi, diabetes, migrain berat, stroke, gangguan hati, obesitas, atau perokok berat. Untuk ibu menyusui, KB koyo tidak dianjurkan karena mengandung kombinasi hormon estrogen dan progesteron.

“Untuk ibu menyusui sebaiknya menggunakan KB progesteron saja,” tegasnya. Ia juga mengingatkan agar area kulit tempat patch ditempel tidak terkena lotion atau minyak agar daya rekat tetap optimal.

Terkait ketersediaan, KB koyo sudah dapat ditemukan di apotek maupun fasilitas layanan kesehatan, meski belum sepopuler metode lain. dr. Aida menekankan pentingnya konseling sebelum memilih kontrasepsi. Menurutnya, pemilihan KB harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan, kebutuhan, dan rencana kehamilan masing-masing pasangan. “Dalam konseling KB, kami jelaskan semua pilihan beserta kelebihan dan kekurangannya. Keputusan tetap ada pada pasangan,” pungkasnya.