Belakangan ini, informasi mengenai virus Nipah ramai diperbincangkan di media sosial. Menanggapi hal tersebut, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSU Universitas Muhammadiyah Malang (RSU UMM), Dr. dr. Didi Chandradikusuma, Sp.PD, K-PTI, memberikan penjelasan agar masyarakat lebih memahami dan tidak panik dalam menyikapi isu ini.

Virus Nipah pertama kali ditemukan pada tahun 1998 di Malaysia, tepatnya di daerah Sungai Nipah. Nama virus ini kemudian diambil dari lokasi ditemukannya kasus pertama. Secara alami, virus Nipah berasal dari hewan, khususnya kelelawar buah atau yang dikenal masyarakat sebagai codot.
dr. Didi menjelaskan bahwa penularan virus ini dapat terjadi melalui beberapa cara. “Virus Nipah berasal dari kelelawar buah. Ketika kelelawar menggigit buah, virus dapat menempel pada buah tersebut. Jika buah tersebut dikonsumsi oleh hewan lain atau manusia, maka penularan bisa terjadi,” ujarnya.
Selain itu, penularan juga dapat terjadi dari manusia ke manusia melalui kontak dengan cairan tubuh. Ia menambahkan bahwa penularan bisa melalui air liur, darah, maupun cairan pernapasan seperti batuk dan bersin. Hal ini membuat virus Nipah perlu diwaspadai karena memiliki potensi penyebaran yang cukup luas.
Dari sisi gejala, infeksi virus Nipah memiliki variasi yang cukup beragam. Secara umum, gejalanya menyerupai infeksi saluran pernapasan seperti batuk dan pilek. Namun, dalam kondisi tertentu, infeksi dapat berkembang menjadi lebih serius. dr. Didi menyampaikan bahwa virus ini juga dapat menyebabkan radang paru (pneumonia), gangguan pencernaan seperti diare, hingga peradangan otak atau ensefalitis yang berisiko tinggi menyebabkan kematian.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya langkah pencegahan sederhana yang dapat dilakukan masyarakat. Menurutnya, menjaga kebersihan menjadi langkah utama dalam mencegah penularan. Selain itu, masyarakat diimbau untuk tidak mengonsumsi buah yang diduga telah tergigit oleh kelelawar.
“Jika merasa tidak sehat, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan. Di tempat umum, penggunaan masker juga dapat membantu mencegah penularan, terutama jika ada orang di sekitar yang sedang batuk atau bersin,” jelas dr. Didi.
Melalui edukasi ini, RSU UMM mengajak masyarakat untuk lebih waspada tanpa harus panik. Pemahaman yang baik mengenai penularan, gejala, dan pencegahan virus Nipah diharapkan dapat membantu masyarakat melindungi diri dan lingkungan sekitar dari risiko infeksi